KOPI DARAT PPI JERMAN : Indonesia Merawat Toleransi dan Keberagaman

Pada hari Rabu, 27 November 2013 PPI Jerman bekerjasama dengan PCI NU Jerman dan KBRI Berlin kembali mengadakan  “KOPI DARAT PPI JERMAN” dengan tema “Indonesia Merawat Toleransi dan Keberagaman“ yang kali ini menghadirkan beberapa narasumber yaitu:

  1. Alissa Abdurrahman Wahid (Putri mantan Presiden Indonesia, Gus Dur)
  2. Dr. Siswo Pratomo (DCM KBRI Berlin)
  3. Pater Fidelis Waton (Pamong Rohani KMKI Berlin)

Sekilas latar belakang acara :

Mengapa Orang Muda Harus Tahu Masalah ini? Keberagamaan adalah kenyataan dan toleransi adalah keharusan. Jika Indonesia ingin mempertahankan apa yang kita miliki sekarang, maka merawat toleransi adalah sebuah keniscayaan.Continue reading

Kopi Darat PPI Jerman: Workshop Pluralisme Bhinneka Tunggal Ika Cuma Utopia? Proyeksi dan Realita Keberagaman Indonesia

Pada tanggal 6 Agustus 2013, PPI Jerman mengadakan Workshop Pluralisme di Rumah Budaya Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Berlin dengan judul: Bhinneka Tunggal Ika Cuma Utopia? Proyeksi dan Realita Keberagaman Indonesia. Acara ini berlangsung dari Pukul  17:30 sampai Pukul 23:00 yang kemudian dilanjutkan dengan buka puasa bersama. Acara ini juga dihadiri 50 peserta dari berbagai jenis latar belakang budaya yang berbeda.

Berbeda dengan kegiatan diskusi lainnya, kegiatan yang mengupas tema pluralisme, multikulturalisme dan keberagaman di Indonesia ini menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD) yang difasilitasi oleh Ibu Siska Andanti (dosen komunikasi dan antropologi di Universitas Paramadina dan dosen mata kuliah multikulturalisme di Universitas Katholik Atmajaya Jakarta). Dalam penyelenggaraan peserta diajak untuk proaktif dalam diskusi dan memaparkan berdasarkan pengalaman para peserta menghadapi situasi yang bhinneka di Indonesia.

Dalam sesi FGD, setiap kelompok yang terdiri dari peserta yang heterogen distimulasi dengan pertanyaan: “Indonesia sebaiknya di-monokulturkan karena kondisi yang multikultur dan plural lebih sering menimbulkan konflik, bagaimana pendapat anda?” Diskusi ini berlangsung dengan intensif, mengingat pertanyaan yang diberikan cukup memprovokasi para peserta. Namun demikian, diskusi berlangsung cukup tertib. Setiap peserta memaparkan pendapatnya tanpa mengurangi nilai-nilai pluralisme itu sendiri.Continue reading