Kartini dan Sejarah Perempuan Menempuh Perguruan Tinggi

Oleh: Nadya Karima Melati
Sejarawan dan pendiri organisasi Support Group and Resource Center on Sexuality Studies. Penulis buku Membicarakan Feminisme (2019)

Film Kartini (2017) yang diperankan Dian Sastro jauh lebih optimis dari kenyataan yang sesungguhnya terjadi. Faktanya, Kartini tidak pernah mengambil beasiswa yang ditawarkan oleh Abedanon untuk belajar Antropologi di Belanda. Ia memberikan kesempatan tersebut kepada koleganya, seorang poligot bernama Agus Salim. Cita-citanya sebagai seorang akademisi tentu tidak redup. Melalui surat-suratnya yang dikurasi oleh Abedanon, pikiran Kartini hidup lebih lama daripada tubuhnya. Suratnya menjadi ayat-ayat api (istilah yang digunakan sejarawan JJ Rizal) yang membakar semangat setiap perempuan yang mampu baca-tulis untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya.

Tahun 1903 adalah tahun yang terlalu dini untuk seorang perempuan Jawa mempunyai cita-cita sebagai seorang akademisi. Butuh 26 tahun setelah pupusnya cita-cita Kartini untuk ke Belanda, hadir generasi perempuan baru yang mampu menempuh pendidikan tinggi. Perempuan itu bernama Maria Ulfah Santoso. Mungkin karma atau balas jasa, Agus Salim adalah kerabat ayah Maria yang mendorong dia untuk menempuh studi ke Belanda. Maria Ulfah Santoso menjadi perempuan pertama yang menempuh studi hukum di Leiden pada 1929.

Perempuan yang berhasil menempuh perguruan tinggi dan bersekolah di luar negeri adalah buah dari perjuangan gelombang feminis sebelumnya baik di tingkat advokasi maupun literasi. Persaudaraan perempuan dari berbagai kelas dan organisasi perempuan meningkatkan kualitas hidup para perempuan. Tanpa Kartini, Maria Ulfah Santoso tidak akan pernah bisa ke Leiden. Tanpa Maria Ulfah Santoso, Indonesia tidak akan mengakui hak memilih dan dipilih perempuan pada pemilu pertama Indonesia tahun 1955. Tanpa perjuangan hak dipilih dan memilih perempuan, hak cuti haid, hamil dan melahirkan yang diperjuangkan SK Trimurti tidak akan lolos. Tanpa perjuangan aktivisme organisasi feminisme dalam melobi internasional, Indonesia tidak akan pernah diakui internasional sebagai negara merdeka sejak 1945.

Perjuangan Perempuan meraih Pendidikan Tinggi

Sebelum Maria Ulfah Santoso berhasil melanjutkan pendidikan ke luar negeri, terhitung beberapa perempuan yang berusaha untuk melanjutkan pendidikan tinggi namun pupus. Ketika STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) atau sekolah mantri Jawa didirikan tahun 1851, asrama yang tersedia hanya untuk laki-laki. Otomatis berbagai pelajar yang datang dari dalam atau luar Batavia kiranya berjenis kelamin lelaki. Begitu pula beasiswa yang tersedia. Marie Thomas, perempuan asal Likoang, Sulawesi Utara menjadi perempuan pertama yang berhasil menjadi mahasiswa STOVIA pada 1912. Bayangkan butuh 60 tahun setelah lembaga pendidikan itu dibuka untuk menerima pelajar perempuan! Itu pun dia mendapat bantuan beasiswa dari organisasi Feminis Belanda sebab beasiswa hanya tersedia untuk pelajar lelaki.

Jarak generasi antara Kartini dan Maria Ulfah Santoso diisi oleh perjuangan perempuan aktivis yang menekankan hak pendidikan bagi perempuan. Hubungan antara akses pendidikan, politik etis dan aktivisme perempuan tidak bisa dipisahkan. Surat-surat Kartini  Door Duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang) diterbitkan pada 1911 dan menjadi bacaan wajib bagi para priyayi muda masa pergerakan. Buku itu meledak di kalangan pelajar dan pejuang pergerakan. Kartini memang tidak menuliskan pengalamannya bersekolah di luar negeri, tapi Door Duisternis Tot Licht berhasil membuat pembacanya berpikir kritis.

Identitas gender yang kaku memengaruhi prioritas keluarga dan pilihan perempuan untuk menempuh studi.  Sehingga Technische Hooge School (almamater Soekarno) yang didirikan pada 1920 tidak diakses oleh perempuan. Sujatin Kartowijno misalnya. Ia adalah penggagas Kongres Perempuan Pertama Indonesia. Dalam biografinya Mencari Makna Hidupku (1983) menuturkan ia bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan tinggi dan sekolah hukum di Batavia namun karena ia perempuan, pendidikan tinggi lebih diprioritaskan kepada kakak lelakinya. Ia akhirnya memilih sekolah pendidikan guru karena pada zaman tersebut perempuan masih dipercaya kemampuan mengasuh dan pekerjaan terbaik perempuan adalah menjadi guru. Mary Wollstonescraft berkata, “genius will always educated themselves.”  Dan benar saja, perempuan-perempuan yang gagal menempuh perguruan tinggi karena sistem patriarki, mencari jalan lain: berorganisasi.

Evie Poetiray, Kartini di perantauan yang melawan Nazi

Sebagai mahluk sosial, manusia penting untuk berorganisasi tidak terbatas pada identitas gender dan orientasi seksualnya. Organisasi pertama yang menggunakan kata Indonesia adalah organisasi pelajar di perantauan yakni, Perhimpunan Indonesia (1924). Awalnya bernama Indische Vereeniging didirikan pada 1908, kemudian semakin banyak pelajar Indonesia di Belanda yang terpapar pada konsep diskriminasi dan kemerdekaan. Sebab itulah organisasi pelajar perlu berganti nama untuk menunjukan identitas dan tujuan organisasi tersebut.

Perhimpunan Indonesia melahirkan banyak pemikir radikal yang menentukan arah kemerdekaan bangsa. Salah satunya adalah Georgine Eveline Poetiray, seorang yatim-piatu mendapat kesempatan untuk belajar studi analisis Kimia di Belanda pada 1937. Selama masa studi Evi mengalami gonjang-ganjing ekspansi fasisme Nazi Jerman ke Belanda. Sebagaimana Kartini yang berjuang dengan literasi, Evie berjuang dengan  literasi, aktivisme dan organisasi sembunyi-sembunyi dalam melawan fasisme dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Pada awalnya Evie bergabung pada organisasi Indonesische Christen Jongeren (IJC) dan menggunakan identitas sebagai anggota IJC untuk mengelabui tentara Nazi dan pemerintahan fasis sebab Perhimpunan Indonesia digolongkan sebagai organisasi radikal dan beberapa anggotanya ditangkap, dipenjara dan bahkan dibunuh. Evie berjuang secara literasi: ia menulis, mencetak dan mengirimkan selebaran ilegal. Dengan identitas keperempuanan dan anggota organsiasi IJC, ia mencari alamat-alamat persembunyian. Aktivismenya adalah mengorganisir pertemuan dan memberikan perlindungan bagi orang-orang yang dicurigai oleh pemerintah dengan tujuan kemerdekaan Indonesia. Sebagai perempuan yang berorganisasi, ia menjadi penghubung antara IJC dan PI. Pemerintah tentu mengendus aktivisme Evie dan sempat meminta ia menghentikan kegiatannya sepanjang 1943 hingga runtuhnya Nazi.

Pasca kekalahan Nazi Evie menulis selebaran tentang bagaimana pelajar Indonesia bersama-sama dengan penduduk Belanda melawan fasisme Nazi dan meminta supaya Pemerintahan Belanda melihat Indonesia sebagai negara yang sejajar. Pada masa itu pendukung kemerdekaan Indonesia di Belanda datang dari Partai Komunis Belanda. Pada Februari 1946 setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia, Evie ditunjuk oleh Partai Komunis Belanda untuk berorasi di Amsterdam mewakili PI. Soekarno menjulukinya sebagai Henriëtte Roland Holst, penyair dan tokoh komunis, atas sumbangan intelektualitas dan aktivismenya dalam perjuangan kemerdekaan Bangsa.

Evie Poetiray adalah sosok perempuan yang perlu dicontoh oleh perempuan di organisasi pelajar di perantauan. Sosok Kartini yang diwujudkan dalam pemikirannya yang radikal, kemampuannya menulis dan berpikir tajam dan kritis. Aktualisasinya untuk membela yang tertindas dalam solidaritas internasional. Evie Poetiray membuktikan semua itu. Di hari Kartini ini, bagi perempuan/pelajar yang (telah berhasil) menempuh perguruan tinggi di Jerman, apakah kita mampu setajam dan seradikal Kartini dan Evie Poetiray?

21.04.2020