COVID-19: Apa yang Dapat Kita Pelajari?

Oleh: Arnold Budhi Prasetyo

COVID-19 (Coronavirus disease 2019) telah menjadi sebuah akronim yang terlalu akrab di telinga kita karena orang-orang di berbagai belahan dunia dalam kesehariannya tak kunjung henti menjadikannya sebagai bahan perbincangan. Bahkan sulit untuk dipungkiri bahwa akronim tersebut masih saja menggentayangi pikiran kita dari pagi hari di saat mata baru saja terbuka hingga malam hari menjelang mata kembali beristirahat. COVID-19 hanya dalam beberapa bulan semenjak kemunculan pertamanya di tubuh manusia telah mampu secara drastis mengubah pola hidup manusia. Pandemi ini begitu terasa karena dampak yang dihasilkan tidak hanya dalam ruang lingkup ekonomi, sosial dan politik global, namun merambah pula hingga ke dalam ruang lingkup psikologis individu. Telah begitu banyak paparan dari segi teknis mengenai cara menghadapi COVID-19 yang bertebaran berbagai media. Tanpa maksud mengesampingkan segi teknis, tulisan ini lebih difokuskan pada pendekatan paradigma atau pola pikir sebagai bahan kontemplasi untuk kita semua dalam menghadapi COVID-19.

——————————————————————-

            Manusia merupakan makhluk hidup yang unik dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidup spesiesnya. Kemampuan manusia demi mempertahankan eksistensi spesiesnya dari awal masa evolusi hingga kini tak hanya ditunjang oleh perkembangan cara berkomunikasi yang efektif, namun didukung pula oleh kemampuannya dalam berefleksi. Di dalam sejarah kehidupan manusia dalam menghadapi krisis, terkhusus dalam konteks krisis COVID-19 yang dihadapi saat ini, kita dapat menemukan dua tipe manusia, yaitu manusia bijaksana dan manusia gegabah.

Reaksi Manusia Gegabah

Manusia gegabah hanya mau menerima informasi simpang siur yang berseliweran dan menyenangkan ego mereka, tanpa pemilahan dan perefleksian terhadapnya. Mereka mudah termakan sebuah dogma tanpa bukti dan tidak pernah mempertanyakan kembali dogma tersebut. Fakta dan kerasionalitasan tidak dijadikan landasannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, mereka cenderung bertindak reaktif disertai panik yang tertuang dalam tindakan ceroboh tanpa pertimbangan matang. Di samping itu, mereka pun dapat bersikap bebal dengan menganggap enteng sesuatu dan tak mau mengikuti kesepakatan bersama. Pada satu sisi, kepanikan mereka mampu menebarkan ketakutan tak rasional terhadap lingkungan sekitarnya. Pada sisi lainnya, kebebalan mereka dapat menyuburkan penularan virus corona. Ciri lain yang dapat dilihat dari manusia gegabah ialah sikap pesimis berlebihan yang berujung pada kepasrahan tanpa tindakan. Mereka enggan atau setengah-setengah dalam berbuat sesuatu karena merasa bahwa hidup mereka telah ditentukan sepenuhnya oleh kekuatan lain sehingga mereka tidak mempunyai kendali apapun dalam mengubah sesuatu. Sikap optimis berlebihan pun menjadi salah satu karakteristik manusia gegabah. Mereka yakin bahwa harapannya pasti akan terpenuhi dengan merasa bahwa semua hal pasti akan baik-baik saja sehingga mengakibatkan hilangnya sikap antisipatif atau kewaspadaan.

Ciri-ciri manusia gegabah dapat dilihat di dalam tindakan sebagian pemimpin dan politisi dunia, sebagaimana para pemimpin yang melakukan pembatasan daerah secara mendadak tanpa memperhitungkan keadaan ekonomi masyarakat kelas bawah yang bersandar pada penghasilan harian di luar rumah agar dapat bertahan hidup. Di samping itu, terlihat pula sebuah kegegabahan di dalam tindakan para pemimpin yang terlalu menganggap remeh pandemi COVID-19 dengan tidak mempersiapkan langkah antisipatif skenario terburuk karena merasa bahwa semua hal pasti akan berakhir baik. Mereka ini ialah para pemimpin yang justru memanfaatkan situasi krisis dengan melakukan sebuah manuver politik melalui sikap arogansinya, menghabiskan dana di masa pandemi COVID-19 untuk para influencer demi pariwisata dan tidak transparan kepada masyarakat melalui pemaparan informasi yang tidak komprehensif ataupun pemaparan informasi yang telah dipoles.

Tidak hanya sebagian pemimpin dunia yang mencerminkan tipe manusia gegabah, tindakan sebagian masyarakat dari berbagai kalangan pun turut andil dalam kesembronoan ini. Kita telah banyak menyaksikan tindakan diskriminatif pada salah satu ras tertentu, tindakan diskriminatif pada mereka yang terpapar corona virus, penjarahan, pemborongan dan penimbunan bahan baku pokok, penggunaan alat pelindung diri tidak pada proporsinya, kegiatan mudik yang tidak urgensi, kegiatan nongkrong yang tidak penting dan juga kegiatan kumpul keagamaan secara masif. Mungkin diri kita sendiri atau orang sekitar kita termasuk ke dalam tipe manusia gegabah, namun manusia sebagai makhluk unik memiliki kapasitas untuk belajar dari kesalahan. Oleh karena itu, agar dapat keluar dari jurang kebodohan fundamental, kita harus mau melepaskan diri dari cengkraman pola pikir manusia gegabah dan secara perlahan belajar untuk menjadi manusia bijaksana.

Reaksi Manusia Bijaksana

Manusia bijaksana di saat ini ialah mereka yang proaktif mengedukasi dirinya dengan memegang fakta sains sebagai pedoman dalam mengumpulkan data yang berkaitan dengan pandemi COVID-19. Data yang dikumpulkan ini sebisa mungkin bersifat komprehensif atau menyeluruh. Tak hanya berhenti di situ, data ini harus mampu dievaluasi secara rasional sehingga mereka dapat bertindak tepat. Ciri manusia bijaksana ialah mereka yang bersikap realistis terhadap keadaan. Kerealistisan ini tercermin dari sikap tenang sekaligus waspada ketika berhadapan dengan sebuah krisis.

Bidang Kesehatan

Fakta sejarah dapat dijadikan salah satu bahan pembelajaran. Bila kita mau belajar dari sejarah, tidak hanya pandemi COVID-19 yang pernah dihadapi manusia, manusia pernah dan masih berjuang dalam mengatasi penyakit berskala besar lain, yaitu endemi skala daerah seperti malaria, epidemi skala negara sekitar seperti ebola dan juga pandemi skala global lainnya seperti Black Death dan Flu Spanyol. Selain itu kita pun mengenal penyakit lain yang disebabkan oleh virus seperti cacar yang meskipun telah memakan banyak korban jiwa, namun mampu diatasi melalui penemuan vaksin pertama oleh saintis, di mana vaksin tersebutlah yang juga menjadi cikal bakal imunisasi. Dengan mempelajari pola penyakit dan cara menghadapinya di masa lalu, kita dapat bersikap tenang karena kejadian seperti saat ini pernah berhasil ditanggulangi oleh umat manusia melalui kerja keras manusia dalam bidang sains. Ketenangan dan kerja keras demi kemajuan sains yang telah terbukti efektif menghadapi segala masalah manusia dari masa ke masa menjadi sebuah kombinasi yang diperlukan di saat ini.

Di samping perefleksian fakta sejarah, pedoman saintifik dalam bidang kesehatan dari WHO (World Health Organization) pun memegang peranan penting. WHO telah memberikan informasi mengenai COVID-19 yang terus akan diperbaharui. WHO menjabarkan informasi penting seperti apa itu COVID-19, bagaimana virus ini bisa menyebar dan siapa saja yang rentan akan virus ini. Selain itu terdapat pula panduan langkah per langkah dalam menghadapi COVID-19 seperti jaga jarak antarindividu, kesadaran dalam mencuci tangan menggunakan sabun hingga seberapa urgensinya penggunaan masker bagi orang sehat di saat terjadinya kelangkaan masker. Pedoman yang berguna untuk mengatasi kesimpangsiuran mengenai COVID-19 dapat secara lengkap diakses di website WHO*. Melalui pedoman saintifik yang diuraikan WHO, kita disadarkan bahwa kewaspadaan di situasi genting saat ini sangatlah penting karena virus corona mudah menyebar melalui tetesan kecil dari hidung atau mulut yang salah satunya dihasilkan ketika orang batuk. Meskipun begitu, kita pun tetap bisa bersikap tenang karena telah dinyatakan bahwa 80% dari mereka yang terpapar virus corona sembuh tanpa perlu penanganan spesial. Hal ini merupakan satu bukti lain bahwa sainslah yang mampu memberikan suatu pedoman efektif dan solusi manjur dalam menghadapi permasalahan dunia.

Bidang Sosial, Politik dan Ekonomi 

Tak hanya dalam bidang kesehatan, pemimpin dan rakyat perlu bersandar pada data saintifik yang komprehensif, kemudian mengevaluasinya secara rasional guna melakukan tindakan di bidang sosial, politik dan ekonomi. Para pemimpin seharusnya mulai menyadari bahwa inilah saatnya antarnegara dapat saling bergotong royong satu sama lain. Kegagalan sebuah negara dalam mengatasi pandemi COVID-19 akan berdampak pada kembali merebaknya virus corona di negara yang telah pulih. Oleh karena itu, negara yang memiliki tingkat kesejahteraan ekonomi tinggi perlu mengambil langkah-langkah konkret dengan memberikan bantuan kepada negara dengan tingkat ekonomi rendah. Melalui suntikan bantuan tersebut, negara dengan tingkat ekonomi rendah tidak akan takut melakukan tindakan ekstrim seperti karantina daerah karena negara tersebut tahu bahwa rakyatnya tidak akan akan menderita melalui kebijakan tersebut sehingga sebuah pemberontakan dapat dihindarkan ketika rakyatnya diminta untuk melakukan karantina di rumah masing-masing. Pada tingkat yang lebih visioner, situasi ini justru dapat menjadi menjadi impuls awal kolaborasi dunia untuk memberikan jaminan kesehatan dan juga kesejahteraan global di masa mendatang. Inilah sebuah bentuk keberpihakan kepada mereka yang lemah dan tersingkir. 

Kesempatan emas untuk berubah dan melakukan lonjakan kemajuan peradaban pun tak berhenti di situ. Telah terbukti bahwa pemimpin dalam bidang pendidikan ternyata mampu bertindak cepat dan tepat. Pembelajaran online yang setelah bertahun-tahun hanya menjadi wacana dengan perealisasian yang lamban, akhirnya dapat benar-benar tereksekusi secara cepat. Survival instinct manusia di masa genting ternyata mampu membuat manusia bergerak cepat dalam mengeksekusi wacana yang pada situasi normal menghabiskan waktu bertahun-tahun. 

Keterbukaan pada teknologi terbukti dapat menjadi obat yang ampuh dalam menghadapi situasi genting karena teknologi dapat secara efisien mengatasi proses kerja yang lamban dan bertele-tele. Meskipun begitu, teknologi tetap memiliki dua mata pedang. Di satu sisi, teknologi dapat mendukung masyarakat untuk semakin terbuka dan demokratis. Teknologi pun mampu mempersempit kesenjangan antara yang kaya dan miskin, antara pemimpin dan rakyat dan antara yang terdidik dan kurang terdidik. Di sisi lain, teknologi justru dapat mendukung tingkat kontrol penuh pemerintah terhadap rakyatnya atau dengan kata lain teknologi dapat menyuburkan sebuah pemerintahan otoriter. Terdapat sebuah dilema dalam penanganan pandemi COVID-19. Telah terbukti bahwa pemerintahan yang cenderung otoriter, seperti negara Tiongkok dan Korea Selatan mampu membendung penyebaran COVID-19, sementara di sisi lain negara-negara Eropa dan USA yang lebih demokratis cukup kewalahan dalam menghadapinya. Tetapi, justru di sinilah bagaimana para pemimpin dunia dapat kembali memutar ulang otaknya untuk mencari jalan tengah di antara sistem otoriter dan sistem demokrasi. Para pemimpin dunia dapat mempertimbangkan ulang budaya kedisiplinan rakyatnya yang dapat terealisasi melalui dua alternatif. Alternatif pertama ialah ketegasan aturan yang memaksa rakyat untuk menjadi taat dan disiplin. Alternatif kedua ialah sebuah transparansi yang mengedukasi rakyat sehingga mereka dengan kesadaran pribadinya menjadi taat dan disiplin.

Momen Kontemplasi

            Saat ini tentu beberapa dari kita sedang berdiam sendiri di rumah menjauhkan diri dari hiruk pikuk kesibukan luar rumah. Masa pandemi COVID-19 ini merupakan sebuah kesempatan emas bagi kita untuk menarik diri dari dunia luar dan melihat jauh ke dalam diri kita sendiri. Inilah saatnya kita berkontemplasi dan menjernihkan pikiran agar saat akhirnya nanti kita kembali dalam masyarakat, kita telah bertransformasi menjadi seorang manusia bijaksana yang mampu bertindak tepat dalam segala kondisi. Bila salah satu dari kita saat ini berada dalam kondisi terpuruk, mulailah belajar untuk mengambil langkah-langkah antisipatif sehingga kita dapat menjadi manusia mandiri yang siap menghadapi situasi urgen dan siap bertanggung jawab atas diri sendiri tanpa berharap pada bantuan orang lain. Bila salah satu dari kita saat ini berada dalam kondisi beruntung, mulailah belajar kemurahan hati dengan mengulurkan tangan kepada dunia yang masih berjuang mengatasi pandemi COVID-19 ini**.  Di sisi lain, sebagian dari kita pasti ada yang saat ini berdiam di rumah ditemani oleh keluarga atau kerabat dekat. Manfaatkanlah momen berharga ini dengan membangun komunikasi lebih erat bersama mereka sebelum realitas berkata lain di masa mendatang karena sebuah perubahan drastis dapat terjadi kapanpun dan menimpa siapapun tanpa terkecuali.

Beberapa dari kita tentu ada yang merupakan seorang pemimpin, di mana keputusan yang kita ambil akan berdampak pada komunitas luas. Marilah kita belajar bersama-sama untuk menjadi seorang yang visioner. Jadilah seorang visioner mampu mengedukasi budaya yang berguna untuk komunitas, yaitu budaya saintifik, budaya kedisiplinan, budaya keterbukaan, budaya keberpihakan pada kaum lemah/tersingkir, dan budaya gotong royong/solidaritas sebagai pedoman hidup. Masa pandemi COVID-19 hanyalah salah satu rintangan peradaban yang harus kita lalui, sebagai seorang visioner kita pun harus mampu melihat ke depan bahwa sebuah krisis lain akan kembali muncul dan menyengsarakan kita bila kita tak siap. Janganlah cepat terlena bila nanti krisis ini terlewati karena pemanasan global sudah di depan mata.

*https://www.who.int/news-room/q-a-detail/q-a-coronaviruses

**PPI Jerman bersama PPI Dunia mengadakan sebuah event “E-Sports Charity Cup” dan penggalangan dana untuk menekan angka penyebaran COVID-19. Info lengkapnya dapat teman-teman akses melalui Page Facebook PPI Jerman dan Instagram @ppijerman

05.04.2020