Menjalani Hidup Sesuai Agama Budaya dan Tuntutan Perkembangan Zaman

Tidak bisa dipungkiri lagi,seorang manusia adalah mahluk sosial. Yang dimana seorang manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa ada manusia yang lain dan oleh karena itu manusia akan  saling memberikan dampak besar maupun kecil dan juga positif atau negatif. Yang pasti  memberikan dampak bagi diri nya sendiri maupun manusia lain dalam skala besar ataupun kecil,yang dimana terkadang ia tidak menyadari bahwa ada dari beberapa perubahan yang dilakukan nya sekecil apapun akan memberikan dampak positif atau negatif dalam kehidupan sosial nya. Namun juga ada beberapa orang yang menyadari bahwa tidak setiap perubahan dari orang lain harus di ikuti nya.

Seriring berjalan nya waktu perubahan perubahan  kecil yang dilakukan oleh manusia terdahulu memberikan dampak yang cukup besar yang membawa perubahan terhadap hidup kita dimasa sekarang dan seterusnya dan diantara perubahan itu membuat manusia memiliki budaya atau perilaku dan kebiasaan hidup yang berbeda beda.

 

Sekarang  kita tinggal di negara yang memiliki kebiasaan hidup yang cukup berbeda dengan apa yang sering kita lakukan. Yang  kita  tidak dapat memaksakan untuk tetap mempertahankan budaya atau perilaku yang dulu,namun bukan berarti kita harus meninggalkan kebiasaan itu. Lalu langkah apa sebaiknya yang kita lakukan ?

Ada sebuah peribahasa yang berbunyi :

DI MANA BUMI DIPIJAK, DISITU LANGIT DIJUNJUNG

Lalu, apa hubungan antara peribahasa diatas dengan permasalahan kita sekarang? Pertama, kita harus mengerti makna dari peribahasa diatas, yaitu seseorang haruslah mengikuti, menghormati, menyesuaikan diri dengan adat istiadat ataupun peraturan dan kebiasaan yang berlaku di tempat dia berada. Dalam islam pun diajarkan sedemikian rupa. Agama Islam mengajarkan umatnya untuk hidup harmonis, antar sesama umat manusia, meskipun berbeda agama. Toleransi dalam islam bukan hanya terdapat dalam ajaran secara tekstual, namun juga menjadi karakter dan tabiat seluruh umat islam, mulai dari jaman Nabi Muhammad  ﷺ

Namun, meskipun islam mengajak kita untuk bertoleransi terhadap sesama umat manusia, bukan berarti kita bebas melakukannya dalam kehidupan ini, hingga melenceng dari jalan kebenaran. Dalam agama, kita juga diajarkan Dan bukan berarti juga kita harus menelan budaya dan kebiasaan itu dengan mentah-mentah. Seperti yang ditulis diatas, bahwa kita tidak harus mengambil, melakukan, semua perubahan yang ada didepan kita, namun ada baiknya jika kita mem-filter, atau menyeleksi perubahan-perubahan itu. Kita perlu mengingat, bahwa kita juga seorang Muslim, sebagai minoritas di negara ini, yang mana ada batasan-batasan penting yang perlu kita perhatikan jika ingin menyesuaikan dengan lingkungan sekitar dengan agama/kepercayaan yang berbeda dengan kita. Jika kita tidak memperhatikan batasan-batasan itu, maka apa yang akan terjadi sudahlah jelas. Kita hanyut dalam arus budaya yang melenceng jauh dari apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ,  dan kita akan tersesat, tidak mendapat hidayah dari Allah, kehilangan arah menuju jalan yang benar, yaitu jalan yang telah diajarkan olah Rasulullah ﷺ

 

Toleransi dalam islam sudah ada sejak zaman Rasulullah ﷺ, dan kebenarannya tidak pernah diragukan lagi. Dengan data itu, tergambarlah sifat lapang dada umat islam, seperti yang dicerminkan dalam sifat Rasulullah ﷺ,  dan para sahabat ketika berusaha menyebarkan agama islam, karena meskipun mereka dihina atau disakati, mereka selalu bersikap ramah terhadap mereka. Hal ini juga menjadi bukti valid bahwa agama islam disebarkan dengan kedamaian dan toleransi. Bahkan, tidak sedikit orang yang kagum dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ,sehingga mereka diberi hidayah oleh Allah untuk menganut ajaran islam.

Meskipun begitu, bukan berarti dalam agama islam tidak memiliki batasan bagi para pengikutnya dalam melakukan toleransi. Kita juga memiliki batasan dalam bertoleransi dengan agama atau budaya lain. Hal terlarang itu disebut sikap ghuluw (melampaui batas atau berlebih-berlebihan) dalam agama adalah sikap yang tercela dan dilarang oleh syariat. Sikap ini tidak akan memberikan kebaikan pada pelakunya, juga tidak akan membuahkan  hasil yang baik dalam segala urusannya.

Seperti pada Al-Qur’an al-Mâ`idah ayat 77 yang berbunyi :

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا

Artinya: “Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. [al-Mâ`idah/5:77]

Nabi Muhammad ﷺ di takdirkan turun ke muka bumi ini bertujuan untuk menyempurnakan akhlak atau perilaku setiap manusia di muka bumi.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda :

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

Artinya, ‘Sesungguhnya aku diutus (Muhammad) untuk menyempurnakan akhlak.’

Dalam studi akhlak, kualitas manusia dilihat dari akhlaknya. Suatu kaum akan dinilai dari kualitas akhlaknya. Jika akhlaknya baik, maka baik pula lah dinilai kaum itu. Sebaliknya, jika buruk akhlaknya, maka buruk pula dinilai kaum itu.

Maka apa makna dari hadist tersebut ? Nabi Muhammad bersabda demikian karena beliau memang di takdirkan turun ke muka bumi ini telah memiliki tujuan yang jelas,yaitu membenarkan akhlak manusia melalui Al-quran yang dimana dalam Al-quran tersebut banyak tuntunan tuntunan bagi umat manusia.

Maka kesimpulan dari tulisan ini adalah setiap manusia harus memiliki batasan batasan yang dimana batasan tersebut menjadi landasan atau dasar bagi kehidupan semua orang dan menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup seorang muslim di muka bumi ini .

 

Ditulis oleh :

  • Rivan Abdiel | favian azkal –

 

 

Daftar pustaka :

Sumber Internet :

  1. https://www.kompasiana.com/sri.nuraini/5acc8cee16835f287064dff2/menjadi-manusia-beragama-dan-berbudaya
  2. https://umma.id/post/metode-pendidikan-akhlak-911999?lang=id
  3. https://www.islampos.com/cara-singkat-tulis-shallallahu-alaihi-wa-sallam-%EF%B7%BA-di-microsoft-word-ini-dia-143713/
  4. https://almanhaj.or.id/3435-fenomena-ghuluw-melampaui-batas-dalam-agama.html

Sumber Al-Quran :

  1. al-Mâ`idah ayat 77

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>