Menjalani Hidup Sesuai Agama Budaya dan Tuntutan Perkembangan Zaman

Tidak bisa dipungkiri lagi,seorang manusia adalah mahluk sosial. Yang dimana seorang manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa ada manusia yang lain dan oleh karena itu manusia akan  saling memberikan dampak besar maupun kecil dan juga positif atau negatif. Yang pasti  memberikan dampak bagi diri nya sendiri maupun manusia lain dalam skala besar ataupun kecil,yang dimana terkadang ia tidak menyadari bahwa ada dari beberapa perubahan yang dilakukan nya sekecil apapun akan memberikan dampak positif atau negatif dalam kehidupan sosial nya. Namun juga ada beberapa orang yang menyadari bahwa tidak setiap perubahan dari orang lain harus di ikuti nya.

Seriring berjalan nya waktu perubahan perubahan  kecil yang dilakukan oleh manusia terdahulu memberikan dampak yang cukup besar yang membawa perubahan terhadap hidup kita dimasa sekarang dan seterusnya dan diantara perubahan itu membuat manusia memiliki budaya atau perilaku dan kebiasaan hidup yang berbeda beda.

 

Sekarang  kita tinggal di negara yang memiliki kebiasaan hidup yang cukup berbeda dengan apa yang sering kita lakukan. Yang  kita  tidak dapat memaksakan untuk tetap mempertahankan budaya atau perilaku yang dulu,namun bukan berarti kita harus meninggalkan kebiasaan itu. Lalu langkah apa sebaiknya yang kita lakukan ?

Ada sebuah peribahasa yang berbunyi :

DI MANA BUMI DIPIJAK, DISITU LANGIT DIJUNJUNG

Lalu, apa hubungan antara peribahasa diatas dengan permasalahan kita sekarang? Pertama, kita harus mengerti makna dari peribahasa diatas, yaitu seseorang haruslah mengikuti, menghormati, menyesuaikan diri dengan adat istiadat ataupun peraturan dan kebiasaan yang berlaku di tempat dia berada. Dalam islam pun diajarkan sedemikian rupa. Agama Islam mengajarkan umatnya untuk hidup harmonis, antar sesama umat manusia, meskipun berbeda agama. Toleransi dalam islam bukan hanya terdapat dalam ajaran secara tekstual, namun juga menjadi karakter dan tabiat seluruh umat islam, mulai dari jaman Nabi Muhammad  ﷺ

Namun, meskipun islam mengajak kita untuk bertoleransi terhadap sesama umat manusia, bukan berarti kita bebas melakukannya dalam kehidupan ini, hingga melenceng dari jalan kebenaran. Dalam agama, kita juga diajarkan Dan bukan berarti juga kita harus menelan budaya dan kebiasaan itu dengan mentah-mentah. Seperti yang ditulis diatas, bahwa kita tidak harus mengambil, melakukan, semua perubahan yang ada didepan kita, namun ada baiknya jika kita mem-filter, atau menyeleksi perubahan-perubahan itu. Kita perlu mengingat, bahwa kita juga seorang Muslim, sebagai minoritas di negara ini, yang mana ada batasan-batasan penting yang perlu kita perhatikan jika ingin menyesuaikan dengan lingkungan sekitar dengan agama/kepercayaan yang berbeda dengan kita. Jika kita tidak memperhatikan batasan-batasan itu, maka apa yang akan terjadi sudahlah jelas. Kita hanyut dalam arus budaya yang melenceng jauh dari apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ,  dan kita akan tersesat, tidak mendapat hidayah dari Allah, kehilangan arah menuju jalan yang benar, yaitu jalan yang telah diajarkan olah Rasulullah ﷺ

 

Toleransi dalam islam sudah ada sejak zaman Rasulullah ﷺ, dan kebenarannya tidak pernah diragukan lagi. Dengan data itu, tergambarlah sifat lapang dada umat islam, seperti yang dicerminkan dalam sifat Rasulullah ﷺ,  dan para sahabat ketika berusaha menyebarkan agama islam, karena meskipun mereka dihina atau disakati, mereka selalu bersikap ramah terhadap mereka. Hal ini juga menjadi bukti valid bahwa agama islam disebarkan dengan kedamaian dan toleransi. Bahkan, tidak sedikit orang yang kagum dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ,sehingga mereka diberi hidayah oleh Allah untuk menganut ajaran islam.

Meskipun begitu, bukan berarti dalam agama islam tidak memiliki batasan bagi para pengikutnya dalam melakukan toleransi. Kita juga memiliki batasan dalam bertoleransi dengan agama atau budaya lain. Hal terlarang itu disebut sikap ghuluw (melampaui batas atau berlebih-berlebihan) dalam agama adalah sikap yang tercela dan dilarang oleh syariat. Sikap ini tidak akan memberikan kebaikan pada pelakunya, juga tidak akan membuahkan  hasil yang baik dalam segala urusannya.

Seperti pada Al-Qur’an al-Mâ`idah ayat 77 yang berbunyi :

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا

Artinya: “Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. [al-Mâ`idah/5:77]

Nabi Muhammad ﷺ di takdirkan turun ke muka bumi ini bertujuan untuk menyempurnakan akhlak atau perilaku setiap manusia di muka bumi.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda :

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

Artinya, ‘Sesungguhnya aku diutus (Muhammad) untuk menyempurnakan akhlak.’

Dalam studi akhlak, kualitas manusia dilihat dari akhlaknya. Suatu kaum akan dinilai dari kualitas akhlaknya. Jika akhlaknya baik, maka baik pula lah dinilai kaum itu. Sebaliknya, jika buruk akhlaknya, maka buruk pula dinilai kaum itu.

Maka apa makna dari hadist tersebut ? Nabi Muhammad bersabda demikian karena beliau memang di takdirkan turun ke muka bumi ini telah memiliki tujuan yang jelas,yaitu membenarkan akhlak manusia melalui Al-quran yang dimana dalam Al-quran tersebut banyak tuntunan tuntunan bagi umat manusia.

Maka kesimpulan dari tulisan ini adalah setiap manusia harus memiliki batasan batasan yang dimana batasan tersebut menjadi landasan atau dasar bagi kehidupan semua orang dan menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup seorang muslim di muka bumi ini .

 

Ditulis oleh :

  • Rivan Abdiel | favian azkal –

 

 

Daftar pustaka :

Sumber Internet :

  1. https://www.kompasiana.com/sri.nuraini/5acc8cee16835f287064dff2/menjadi-manusia-beragama-dan-berbudaya
  2. https://umma.id/post/metode-pendidikan-akhlak-911999?lang=id
  3. https://www.islampos.com/cara-singkat-tulis-shallallahu-alaihi-wa-sallam-%EF%B7%BA-di-microsoft-word-ini-dia-143713/
  4. https://almanhaj.or.id/3435-fenomena-ghuluw-melampaui-batas-dalam-agama.html

Sumber Al-Quran :

  1. al-Mâ`idah ayat 77

Media Sosial, Antara Kebebasan dalam Kedewasaan

Seorang remaja pelajar kelas 1 SMA di Yogyakarta harus berurusan dengan hukum gara-gara memaki dan menghina polisi di Facebook. Tersangka diketahui mengumpat jajaran kepolisian dengan kata-kata yang tidak pantas.”…

Sepotong kutipan berita di awal tulisan ini menegaskan relasi remaja, media sosial, dan berujung status tersangka dalam kasus penghinaan. Media sosial saat ini menjadi sarana untuk menyatakan eksistensi seseorang, kadang media sosial digunakan pula untuk ajang pamer dan tak sedikit pula media sosial digunakan untuk menyatakan kasta seseorang dengan melihat mulai dari unggahan gambar, cara berpakaian, dengan siapa seseorang pergi, kemana seseorang berlibur. Banyak orang lupa bahwa media sosial adalah sarana mengekspresikan diri. Setiap orang memiliki hak untuk menjadi dirinya sendiri tanpa paksaan orang lain. Di sini kita dapat melihat dunia maya atau media sosial perlu kedewasaan dalam memanfaatkannya.

 

Bebas bermedia

Tidak dapat dipungkiri bahwa tiap orang bebas menggunakan media sosial, bebas mengekspresikan diri, tetapi kebebasan mengekspresikan diri itu pula diikuti dengan konsekuensi yang besar. Ada cacian, ada makian, bebas mengekspresikan diri, bebas berpendapat, tetapi orang lain juga bebas mengekspresikan diri, bebas berpendapat. Tidak sedikit pula dari mereka yang tidak suka melihat perbedaan, tidak suka melihat seseorang yang bahagia. Hal ini terjadi karena masih ada orang yang tidak sadar bahwa media sosial digunakan untuk berekspresi, berbagi cerita berbagi rasa, bukan digunakan sebagai alat membuktikan suatu hal.

Media sosial, seperti kasus di awal tulisan ini, seolah-olah dijadikan suatu alat penilai hidup manusia, tidak sedikit orang yang menilai buruk seseorang karena konten-konten yang ada di media sosial mereka, tidak sedikit orang yang mencaci maki seseorang karena tidak sejalan dengan pemikiran mereka. Cacian dan makian ini membuat banyak orang menjadi takut untuk menjadi diri sendiri karena banyak cacian yang akan dilontarkan apabila seseorang tidak sesuai dengan standar hidup masyarakat sekitarnya. Orang melupakan bahwa tiap-tiap individu di dunia ini unik dan memiliki cara yang berbeda untuk menyatakan dirinya sendiri

Tiap orang memiliki hak untuk menyampaikan ketidaksetujuan mereka di media sosial, itu hal yang wajar. Namun, lambat laun pernyataan tidak setuju ini menjadi semakin “kasar” lebih ke arah tidak menyukai dan tidak mau menghormati sang pengunggah konten. Menurut Saurav Bhanot (scoopwhoop.com) penyampaian pendapat secara kasar ini terjadi karena saat ini ada media sosial yang notabene belum ada di zaman dulu. Kini orang merasa bebas mengekspresikan pendapatnya tanpa harus takut bahwa orang lain akan marah. Berekspresi di dunia maya lebih aman karena kita bisa saja memalsukan nama, foto dan data-data yang ada.

Melihat situasi ini, tentu kebebasan dalam konteks ini menjadi pedang bermata dua. Satu sisi setiap orang bisa menjadi pribadi yang lebih bebas untuk menyuarakan pendapat. Sisi lain dari  kebebasan itu, ada juga dampak negatif di sini, merasa bebas menyatakan pendapat secara negatif, menjatuhkan pihak lain, menghancurkan kepercayaan diri yang dapat berujung mematikan otentisitas diri manusia itu sendiri.

Perlu kedewasaan

Dalam menyikapi ini, diperlukan kedewasaan untuk mengimbangi kebebasan. Kebebasan bukan berarti boleh menjadi seorang yang brutal dapat melakukan apapun yang diingini. Kebebasan berarti tahu cara bersikap di suatu komunitas atau wadah yang memberikan hak untuk berekspresi.

Memiliki media sosial di zaman sekarang merupakan contoh aktualisasi diri dan ekspos pada dunia. Banyak orang yang akan menyerang dengan entah hujatan, atau tekanan, jika tidak sesuai dengan standar hidup atau norma masyarakat yang ada. Hal ini menjadi suatu tantangan untuk benar-benar menjadi diri sendiri. Standar hidup masyarakat disini maksudnya bagaimana mayoritas orang berpikir, bagaimana orang menghabiskan waktu mereka dan bagaimana mayoritas orang hidup. Secara sederhana, standar hidup dapat diartikan sebagai gaya hidup orang kebanyakan.

Media sosial digunakan sebagai sarana untuk mengekspresikan diri, dilihat dari sisi ini, setiap pribadi perlu bertanya kembali kepada diri sendiri, apa guna media sosial yang membentuk pribadi seseorang dengan standar hidup orang lain? Di sini kita ditantang untuk menjadi pribadi yang otentik yang bebas, yang berarti kita bebas untuk menjadi diri sendiri, tanpa menghilangkan rasa hormat terhadap individu-individu lain.

Setiap pribadi harus menjadi seseorang yang memiliki prinsip yang diterapkan dalam hidup bersama, tidak perlu mengikuti gaya hidup yang saat ini sedang terkenal di masyarakat. Dalam idiom Jawa, harus menjadi orang yang “empan-papan”, berarti pandai-pandai menempatkan diri dalam berbagai situasi dan tahu menyikapi seluruh perbedaan tanpa menghilangkan sisi khas dan pribadi yang otentik.

Kedewasaan dalam kebebasan ini harus diperoleh dari didikan keluarga sendiri. Orang tua harus mengajari anak untuk bersikap dewasa dalam hidup bermasyarakat. Orang tua zaman sekarang terlalu berfokus pada membiayai anak, beberapa orang tua lupa untuk menyejahterakan anak. Menyejahterakan berarti mendukung dari sisi moral, tidak sekedar mendukung dari sisi ekonomi. Orang tua takut tidak bisa memberi anak kehidupan yang layak sedangkan anak sendiri juga perlu diberi edukasi untuk menghadapi dunia yang keras.

Orang tua perlu mendampingi anak dalam penggunaan media sosial yang begitu bebas. Mendampingi berarti memberitahu mana yang benar dan mana yang salah, orang tua tidak bisa sekedar melarang anak untuk tidak melakukan hal a atau b karena salah, tapi orang tua juga perlu memberi alasan dibalik larangannya, jadi pemikiran anak tidak terhenti pada sekedar “tidak”, tetapi pemikiran logis anak berkembang. Jadi anak lebih siap dalam menyikapi media sosial yang bebas.

Keluarga, terutama orang tua memiliki peran utama dalam mendewasakan anak dalam menggunakan media sosial karena anak menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya bersama keluarga. Karakter dan kepribadian anak tentu akan terbentuk sesuai kebiasaan keluarga sang anak mengajarkannya. Kedewasaan dalam kebebasan dalam media sosial tentu akan tercapai apabila orang tua memberikan konten yang tepat sesuai dengan umur anaknya. Bila orang tua bisa memilah mana konten yang sesuai yang harus diberikan pada anak dan orang tua juga mampu memberikan pengertian mengapa konten a atau b tidak layak untuk anaknya yang sedang berusia muda belia atau menengah, tentu sang anak juga akan berusaha berpikir dan memahami alasan-alasan yang ada.

Maka dari itu, para orang tualah yang memegang kunci kedewasaan anak dalam menyikapi kebebasan. Orang tua harus menekankan bahwa bebas bukan berarti kita bisa melakukan segala hal semau sendiri, tetapi bebas berarti mengetahui batas-batas hal yang boleh dilakukan, dan tidak boleh dilakukan. Perlunya ditumbuhkan kesadaran akan batas-batas pergaulan, hak-hak orang lain, dan norma hidup bersama. ***

Ngomennnnn…

Di jaman yang sudah maju dan serba digital ini, semakin gampang seseorang untuk mengomentari semua hal yang baik ataupun buruk. Terlebih lagi sekarang ini tersedia platform media sosial yang banyak orang tahuu seperti Facebook, Instagram, ataupun Twitter. Siapa sih yang tidak ada Instagram, Facebook, ataupun Twitter? Dari presiden sampai Kang Siomay sudah memiliki aplikasi tersebut sekarang.

Nah, di sinilah tempat untuk sebagian besar orang mengomentari apapun. Jangan heran kenapa orang sering ngomen sana sini, karena itulah manusia. Biasa dari komentar yang di lontarkan disana, yang paling mencuri perhatian adalah komentar negatif. Komentar-komentar ini kadang didasarkan rasa iseng atau dari hati yang terdalam.

Kadang kita tidak berpikir apa yang terjadi setelah kita mengomentari sesuatu di halaman atau posting orang tersebut. Tidak sedikit orang yang akan „menelan“ bulat-bulat komentar yang di lontarkan kepadanya. Bahkan yang paling parahnya orang tersebut dapat mengakhiri hidup nya sendiri, karena tidak kuat dengan komentar negatif yang dia terima. Contoh yang mungkin diantara kita ketahui adalah maraknya kasus bunuh diri beberapa artis Korea karena tidak kuat dengan tekanan atau kebencian yang diterimanya. Dari contoh ini kita dapat menyimpulkan bahwa komenmu dapat membunuh orang. Membunuh yang dimaksud disini bukan hanya membunuh diri, melainkan termasuk juga karakter, semangat, dan kepercayaan. Bukan hanya sampai sana, banyak yang menganggap orang-orang yang tidak kuat atau tidak dapat menerima komentar-komentar negatif sebagai orang yang lemah mentalnya.

Banyak di antara kita yang juga sering melontarkan komentar-komentar negatif kepada orang lain, yang tidak lain dengan tujuan membentuk mental yang lebih kuat, tetapi pernahkah kita berpikir mengapa kita harus „membentuk“ orang lain , bukankah lebih baik kita perbaiki diri terlebih dahulu, agar menjadi manusia yang lebih baik?

Di salah satu group Facebook, tempat kita bertukar pikiran, pertanyaan ataupun pernyataan para teman-teman perantau Indonesia di Jerman pun sering kita temui komentar-komentar yang sama sekali tidak membantu. Salah satu kata yang sering saya ketemui di bagian komen adalah „Google“. Satu komen tersebut dilontarkan kepada orang yang bertanya karena mungkin yang membaca merasa konyol dengan pertanyaan tersebut. Setelah komen „Google“ tersebut, datanglah komen-komen negatif yang lain. Biasanya komen negatif ini sangat lucu atau sangat menarik untuk dibaca, terlebih lagi kalau si pemilik Thread membalas komen yang di lontarkan kepadanya. Pada akhirnya kedua pihak akan adu mulut di kolom komentar, dan akhirnya yang bertanya akan lupa dengan tujuan dia melontarkan pertanyaan di dalam group tersebut. Di sisi lain orang yang melontarkan komen tersebut akan mendapatkan kepuasan tersendiri karena ada yang meladeni keisengan mereka.

Setelah kejadian tersebut, kita tidak tau apa yang akan terjadi kepada orang yang bertanya tersebut, apakah dia akan berhenti bertanya? Apakah dia akan mencari di Google terlebih dahulu sebelum bertanya? ataukah dia akan melanjutkan komen negatif nya ke orang lain dengan mengomen kata „google“ kepada pertanyaan-pertanyaan yang dia anggap konyol atau bodoh?

Di sinilah yang kita harus ubah. Dimana yang harus diubah? Apakah kita harus merubah orang lain terlebih dahulu? Bukan, untuk merubah orang lain bukanlah hal yang mudah, tetapi kita dapat memulai dari diri kita sendiri . Hal yang kita harus lakukan adalah berikanlah komentar yang membantu atau yang bersifat positif. Kalaupun kita tidak dapat membantu seseorang, tidak mengomen juga akan banyak membantu. Sangat gampang untuk kita mengeluarkan komentar, tetapi tidaklah mudah orang yang di beri komentar untuk melupakannya.

Caranya untuk menjadi manusia yang lebih baik,beradab dan berbudaya sangatlah gampang. Kita dapat memulai dari hal kecil yang kita temui setiap harinya, seperti contohnya  apabila kita tidak menyukai suatu posting , pernyataan ataupun pertanyaan orang lain , cobalah kita mengabaikan dan jangan mengeluarkan komen-komen yang bersifat negatif. Komen negatif yang maksud sangat berbeda dengan kritikan. Kritikan adalah komen yang dapat membawa perubahan dan akan membuat orang lain untuk menjadi yang lebih baik Alangkah baiknya jika kita bisa memberikan kritikan untuk perubahan. Tapi mengabaikannya karena kita tidak menyukainya akan membantu diri kita sendiri untuk menjadi lebih baik maupun orang lain. Dengan memulai dari diri sendiri , teman-teman kita akan berubah ,dan mungkin jangka panjangnya akan merubah sebuah komunitas yang baik dan positif. Untuk menutup artikel ini ingatlah moto ini „Keep spreading Love and Positivity„    

Oleh Andy Susanto

Menjadi Manusia yang Berbudaya

Osgar Karsena

Tidak dapat dipungkiri bahwa budaya memainkan peranan penting dalam suatu bangsa. Setiap manusia memiliki cara hidupnya masing-masing dalam menyelesaikan masalah dan mencapai tujuan. Kebiasaan inilah yang tertuang pada generasi-generasi berikutnya, sehingga dipercaya dan melekat dalam perilakunya sehari-hari. Datangnya budaya baru merupakan tantangan dan dapat diibaratkan seperti sebuah ujian, yang akhirnya dapat tertolak atau diterima dengan baik oleh manusia.
Selama hidup manusia hanyalah belajar dan belajar. Entah belajar pasif atau aktif. Manusia hanyalah bisa menerima apa adanya pada mulanya, seperti seorang bayi contohnya. Ketika manusia sudah nyaman dalam budaya tersebut dan menemukan hal baru, yang tidak ada dalam budayanya, disanalah hati nurani berperan penting, apakah ia mau menerima budaya baru tersebut atau tidak. Sebab sudah naluri manusia, jika ia ingin mencoba sesuatu yang baru tanpa meninggalkan lingkungan budayanya. Seseorang berhak untuk menerima dan menolak hal yang baru baginya. Sebab keduanya memiliki konsekuensi. Seorang anak sekolah yang harus melakukan pekerjaan rumah, memiliki konsekuensi jika ia tidak mengerjakan tugasnya. Ia bisa berbohong, kalau ia sudah mengerjakan tugasnya, dan keesokan harinya akan ditegur oleh guru dan ditertawai teman-teman sekelasnya. Atau ia mengerjakan tugas dan dihargai oleh orang-orang di sekitarnya. Tetapi budaya bukanlah tugas bagi manusia, melainkan pilihan. Pada awalnya memang manusia percaya bahwa budaya yang dia terima adalah budaya satu-satunya yang benar. Tetapi saat seseorang menyadari bahwa pilihan itu adalah nyata, maka di sanalah ia harus menentukan.
Hal terkecil dan pertama kali yang diterima adalah budaya dalam keluarga. Setiap anak dididik dengan budaya yang berbeda-beda, sehingga budaya itu melekat dalam dirinya. Contoh sederhana adalah saat anak-anak saling bertemu, disanalah pertemuan budaya-budaya yang berbeda. Seringkali terjadi bahwa anak-anak saling membela dirinya berdasarkan budaya di dalam keluarganya. Hal ini sangatlah lumrah. Saat anak-anak “naik kelas” budaya, dan melihat bahwa kebiasaan satu dengan yang lainnya sangatlah berbeda, maka ia memilih, akankah memilih menerima atau menolak budaya lain. Begitu juga dalam hidup berbudaya masyarakat di masa kini, yang seringkali tercampur aduk dan terlalu cepat arusnya mengarungi budaya setiap bangsa. Semuanya adalah pilihan dan setiap bangsa tidaklah harus “naik kelas”. Sebab di sinilah ujian sesungguhnya, apakah suatu bangsa dapat mempertahankan budayanya ketika budaya bangsa lain masuk dengan derasnya.
Bangsa yang berbudaya berasal dari manusia-manusia yang berbudaya. Manusia yang berbudaya adalah manusia yang berhasil menentukan apakah ia dapat menerima budaya baru atau tidak. Karena ia tidaklah gagal dalam “ujian”, ketika menolak suatu budaya baru, tetapi oleh karena itulah ia berhasil menerima budaya baru di sekitarnya dan tidak membenturkannya. Inilah makna dari manusia yang berbudaya. Oleh sebab itu dia bukanlah saja manusia yang pintar secara logika tetapi juga secara batiniah.
Seringkali kita melihat jelas dengan mata kepala sendiri, baik teman maupun keluarga kita sendiri yang umumnya sudah tinggal lama di kota, enggan untuk berbelanja di pasar tradisional dengan berbagai alasan. Berbelanja di pasar tradisional merupakan budaya asli bangsa Indonesia. Sejak datangnya budaya barat, yang memperkenalkan pasar modern, maka semakin banyak masyarakat yang tertarik untuk berbelanja di pasar modern. bila hal ini berlangsung dalam waktu yang lama, maka pengaruh budaya barat ini dapat melekat pada sekolompok masyarakat dan menimbulkan budaya baru di suatu bangsa. Tetapi realitanya, hingga saat ini juga masih banyak masyarakat yang berbelanja di pasar tradisional, meskipun pasar modern memiliki fasilitas yang lebih nyaman. Dari contoh ini kita mengetahui, bahwa sedikitnya ada dua budaya untuk menentukan pilihan. Dalam hal ini tujuannya adalah masyarakat dapat pergi ke sebuah tempat, dimana mereka dapat berbelanja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Masing-masing pasar ini tetap berada di tengah-tengah kehidupan masyarakt. Sebab masing-masing budaya memiliki daya tariknya masing-masing. Menjadi manusia yang berbudaya bukanlah manusia yang meninggalkan budaya aslinya dan mengadopsi budaya baru sepenuhnya. Melainkan dia mampu mengimbangi di dalam dirinya pengaruh budaya-budaya yang ada di sekitarnya. Hal yang terpenting di dalam hidup ini adalah mencapai tujuan, yang ditentukan masing-masing manusia. Budaya hadir dan melekat pada kehidupan manusia sebagai cara untuk mencapai tujuan, baik itu cara berpikir, cara berperilaku, cara berkomunikasi dan lain-lain. Baik masyarakat berbelanja di pasar tradisional, pasar modern atau bahkan daring (online) tidaklah salah. Tetapi pilihan, seperti yang sudah diterangkan, memiliki konsekuensinya masing-masing. Manusia yang berbudaya harus dapat memilih dan menerima akibatnya. Tempat belanja daring kemungkinan besar memiliki harga yang lebih murah dibandingkan yang lainnya. Tetapi situasi pasar yang ramai, komunikasi, perkenalan, dan kepercayaan yang spontan antara pembeli dan penjual, tidaklah dapat dibeli. Selain dari pada itu pula dalam mengimbangi budaya-budaya di dunia ini kita juga turut membantu meringankan beban masyarakat lain yang sulit menerima budaya baru. Umumnya pedagang-pedagang di
pasar tradisional adalah masyarakat yang sudah berkeluarga dan memilih untuk menafkahi keluarganya melalui perdagangan di pasar.
Menjadi manusia yang berbudaya bukanlah menjadi manusia yang egois dan memaksakan kehendak untuk berpikir dengan cara yang sama. Melainkan mengerti budaya lain dan kekurangannya, sehingga dia menjadi kaya akan wawasan dan memiliki budaya yang dicari bangsa-bangsa lain. Saat ini biarlah kita menerawang budaya yang sudah kita miliki, dan buanglah hal yang tidak membuat kita mencapai tujuan dengan baik. Sebaliknya bila ada hal yang baru dan kita pandang baik sebagai pilihan, sehingga konsekuensinya pun baik, dapat kita pertimbangkan untuk menjadi budaya kita sendiri

Ada Apa Dengan Otsus Papua Jilid II?

Salam Perhimpunan!

Kebijakan Otonomi Khusus yang sudah berjalan di Papua sejak tahun 2001 belum sepenuhnya dapat mensejahterakan rakyat Papua yang mungkin dipengaruhi oleh berbagai faktor sehingga mendorong akademisi untuk mendapatkan pencerahan yang mengedukasi terkait kendala/hambatan apa saja yang sebenarnya terjadi sehingga masih adanya pro dan kontra terkait kelanjutan pelaksanaan Otsus di Papua. Hal ini tentu akan menjadi diskusi yang menarik untuk dapat diikuti, dalam rangka membuka wawasan/pengetahuan kita tentang arah kebijakan Otsus, peluang dan tantangannya kedepan.

Dasar tersebut yang mendorong PPI Jerman bekerja sama dengan KBRI Berlin dan PPI Berlin-Brandenburg menyelenggarakan Webinar berjudul „Ada Apa Dengan Otsus Papua Jilid II?” dengan menghadirkan narasumber Bapak Michael Manufandu dan Bapak Velix V. Wanggai. Yang dengan pengalaman dibidangnya kedua narasumber diharapkan dapat memberikan penjelasan yang objektif seputar pelaksanaan otsus Papua yang sudah, sedang, dan akan dikerjakan.

Ayo mari kita berpartisipasi di webinar ini!, Formulir pendaftaran bisa diakses melalui tautan berikut: bit.ly/WebinarOtsus

Living Cost for Studying in Germany: How much do you need?

There are many reasons to choose Germany for advanced studies. As you all know, Germany provides a rich and diverse environment for students ranging from bachelor to doctorate degree. This country is surrounded by spectacular landscapes and sceneries, rich in history, art and a broad offer of culture scenes, which are vibrant and inspiring. This coupled with the fact that Germany is a lead in the world of technology and advanced in innovation, provides an excellent learning environment for students.

The German educational system consists of state-run universities, church-affiliated schools, private schools and cooperative education universities. Most universities have an International Office, which deals with applications and other formalities for students from abroad. Therefore, it is important to contact the International Office as soon as possible to get to know more information about the degree that you want to take in Germany.

Of course, one of the most frequently asked questions by prospective students in Germany is the “LIVING COST”. Here we present some useful data, which were taken from RisDik PPIJ (Department of Research and Education), about a Living Cost Survey that took place from  June to July 2019 and is responded by more than 300 current indonesian students in Germany. Before you take in all the information it is important to know that all the data provided are just a personal reflection of an own personal lifestyle and should therefore just be seen as an approximate standard. 

ExpenditureAmount (Euro/month)
Food50 – 400
Self cooking
Dine out
50 – 100
100 – 400
Rent (accommodation)160 – 470
Private Wohngemeinschaft (flatshare)
Studentenwohnheim (students dormitory)
Private Ein-Zimmer-Apartments (studio single apartment)
180 – 360
160 – 340
190 – 470
Health insurance45 – 140
Personal items
(including clothing, mobile phone bills, toiletries, household goods, and other small personal items)
90 – 150
Leisure items 
(including hobbies, sports, entertainment subscriptions, social and cultural activities)
50 – 240
Transportation
(Depends on the city. Transportation including bus, train and tram.)
35 – 60
Books and equipment (including laptops)20 – 200

Scholarship opportunities in Germany

Master & Doctoral:

No.Name of InstitutionScholarship amount (Euro/month)WebsiteApplication time
1International Max Planck Research Schools (IMPRS)1200-1700https://www.mpg.de/en/imprs November
2DAAD Scholarships for Indonesia1200https://www.daad.id/en/find-funding/daad-scholarships-for-indonesia/ Depends on the program. Majority in October.
3Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) LPDP1100https://www.lpdp.kemenkeu.go.id/ May and September
Differ every year depending on policy.
4GGNB Molecular Biology – International Max Planck Research School (MSc/Ph.D)800-1500http://www.gpmolbio.uni-goettingen.de.15 January
5CiM-IMPRS PhD Programme in Life and Natural Science 1300-1500http://www.cim-imprs.deApril/May
5Hannover Biomedical Research School (HBRS)1350-1500https://www.mh-hannover.de/hbrs.htmlDecember 
6Heidelberg Bioscience International Graduate School (HBIGS)Based on contracthttp://www.hbigs.uni-heidelberg.de/main_application.html Monthly
6Erasmus Mundus Joint Master Degree (EMJMD)>= 1000https://eacea.ec.europa.eu/erasmus-plus/emjmd-catalogue_en Depends on the program. Majority in the beginning of the year.
7Other scholarship in astronomy, physics, computer science, etc.>= 1000https://jobregister.aas.org/
http://inspirehep.net/collection/Jobs
http://www1.astronomische-gesellschaft.de/en/jobregister
Depends on the vacancy offered

Bachelor:

There are many scholarships for Bachelor, but you need to apply when you arrived in Germany. For example scholarships from third parties, churches and governments. The “DAAD STIBET I” scholarship which is specifically for foreigners (non-German students). The registration and scholarship regulations depend on each campus. So you can inquire more information from your register office . There is also a “Deutschlandstipendium” which  provides €300 per month for one year. The scholarship is subject to satisfactory progress. In addition, this scholarship does not allow multiple scholarships, except scholarships that provide a maximum of € 30 / month. For further information please do not shy away to ask the concerning parties on your campus, because the terms and conditions may differ from one another. There are also scholarships from Studienstiftung des deutschen Volkes (nationwide) and Max-Weber-Programm (Bavaria only) which can be applied by bachelor students. 

Full explanation: https://www.linkedin.com/pulse/berburu-beasiswa-s1-di-jerman-betharie-cendera-arrahmani

Things to be assessed when starting your journey in Germany

After your arrival in Germany, there are several important things that are need to be prepared before continuing your journey. This includes opening your bank account, finding the right accommodation, applying for health insurance, registering yourself at the city authorities, processing your enrollment at the university, etc.

The IMPRS-HD webpage kindly provides the summary of that information. You can also check their manual book to start your journey in Germany (especially in Heidelberg), which was written by IMPRS-HD students. The book can be downloaded here.

More articles or guidebooks about living in Germany are also provided by Formal Jerman. Please kindly check their website for more information about studying in Germany: http://lpdp-jerman.org

PPI Jerman Untuk Papua

“Indonesia merupakan negara demokrasi yang dewasa di dalam fungsi-fungsinya, bersama dengan komitmen yang sangat tinggi terhadap promosi dan perlindungan HAM di semua level, hampir mustahil pelanggaran HAM terjadi tanpa diketahui dan diperiksa.”

Demikian yang dikatakan oleh diplomat muda Nara Masista Rakhmatia dua tahun silam di sidang PBB KTT ke 71 mengkritik keras negara-negara pasifik yang diduga mengganggu kedaulatan negara karena mengungkit isu-isu pelanggaram HAM dan wacana kemerdekaan Papua Barat. Beliau juga mengatakan Indonesia adalah pendiri dewan HAM PBB dan inisiator komisi HAM antar kawasan ASEAN dan komisi IOC permanen independen HAM, serta sudah meratifikasi instrumen-instrumen utama HAM yang terintegrasi didalam hukum nasional.

Kala itu pada tanggal 1 desember wacana kemerdekaan oleh para intelektual Papua dilaksanakan dengan dukungan Belanda dibentuklah Nieuw Guinea Raad sebuah badan politik unikameral yang sampai hari ini kejadian tersebut masih dikenang baik, namun setahun setelahnya atas nama penumpasan pengaruh imperialisme Belanda di kawasan Indonesia melalui operasi Trikora yang disahkan oleh Presiden Soekarno dengan bantuan Amerika Serikat akhirnya Papua berhasil menjadi bagian dari wilayah negara kesatuan tersebut.

Ketika kekuasaan Orde Lama jatuh akibat sikap otoriter pemerintah dan pemberontakan, pemerintahan Orde Baru di tahun 1967 mengimplementasikan prinsip ekonomi pasar bebas sekaligus memberikan PT. Freeport ijin tambang di Tembagapura yang dahulu sudah diduga oleh pelancong-pelancong Eropa akan kekayaan alamnya, padahal referendum Papua menurut kesepakatan resmi New York Agreement masih akan dilaksanakan di tahun 1969. PT Freeport memperoleh profit sangat besar yang menjadikan perusahaan itu menjadi perusahaan tambang gigantik dan salah satu sumber penerimaan pajak terbesar negara. Bukan main banyaknya hasil bumi dan uang yang ditransfer oleh provinsi Papua ke Jakarta, meski demikian index pembangunan manusia disana memiliki angka terendah.

Selama 57 tahun Papua menjadi bagian dari Indonesia selain pembangunan yang selalu macet, penggantian identitas disetiap rezim secara arbitrer, gizi buruk melanda, minimnya tenaga kesehatan dan pendidikan, transmigrasi besar-besaran yang secara tidak langsung mengarah kepada perampasan lahan, hak-hak dasar bagi orang Papua juga tidak benar-benar dijamin terutama kebebasan berpolitik dan berpendapat yang seringkali dianggap separatis ketika mengutarakan pendapat, tidak heran pula jika orang Papua mengalami banyak perlakuan rasisme dari orang Indonesia non Papua – karena koteka dan kesukuannya mereka disebut “tidak beradab”, gemar mabuk (bahkan monyet), sulit dididik, berkulit gelap dan praduga lainnya yang tidak ditelaah dengan bijak. Tidak banyak yang dapat diketahui tentang Papua berhubung banyaknya jumlah aparat bersenjata disana sedang berpatroli – kedatangan wartawan nasional maupun internasionalpun dibatasi dan dijaga ketat. Bahkan pasca huru-hara wisma mahasiswa Papua di Surabaya diikuti dengan demonstrasi di Jayapura, Manokwari dan Sorong baru-baru ini pemerintah malah bertindak semakin agresif dengan memperlambat jaringan internet di Papua dan bereaksi “saling memaafkan” serta aparatnya dengan menambah jumlah personel atas nama keamanan.
———————————
Setelah mendengar kritik dari Nara, apa Indonesia sebagai negara demokrasi yang dewasa selama 57 tahun sampai hari ini sudah berhasil menjadikan orang Papua sebagai bagian dari warga negara Indonesia? Mengapa keterlibatan orang papua hampir tak terlihat? Solusi apakah yang lebih baik untuk Papua, Papua yang merdeka atau Papua sebagai Daerah Istimewa seperti Aceh dan Yogyakarta? Apakah pembangunan infrastruktur secara struktural yang dilakukan pemerintah selama ini sudah optimal atau jangan-jangan tak lebih daripada bentuk kontinuitas kejahatan struktural? Atau ada yang keliru dari awal konstruksi sosial dalam sejarah Indonesia yang selama ini diyakini? 
Silakan teman-teman berdiskusi secara santai 🙂

*Penyusun Narasi: revoltierende13