Living Cost for Studying in Germany: How much do you need?

There are many reasons to choose Germany for advanced studies. As you all know, Germany provides a rich and diverse environment for students ranging from bachelor to doctorate degree. This country is surrounded by spectacular landscapes and sceneries, rich in history, art and a broad offer of culture scenes, which are vibrant and inspiring. This coupled with the fact that Germany is a lead in the world of technology and advanced in innovation, provides an excellent learning environment for students.

The German educational system consists of state-run universities, church-affiliated schools, private schools and cooperative education universities. Most universities have an International Office, which deals with applications and other formalities for students from abroad. Therefore, it is important to contact the International Office as soon as possible to get to know more information about the degree that you want to take in Germany.

Of course, one of the most frequently asked questions by prospective students in Germany is the “LIVING COST”. Here we present some useful data, which were taken from RisDik PPIJ (Department of Research and Education), about a Living Cost Survey that took place from  June to July 2019 and is responded by more than 300 current indonesian students in Germany. Before you take in all the information it is important to know that all the data provided are just a personal reflection of an own personal lifestyle and should therefore just be seen as an approximate standard. 

ExpenditureAmount (Euro/month)
Food50 – 400
Self cooking
Dine out
50 – 100
100 – 400
Rent (accommodation)160 – 470
Private Wohngemeinschaft (flatshare)
Studentenwohnheim (students dormitory)
Private Ein-Zimmer-Apartments (studio single apartment)
180 – 360
160 – 340
190 – 470
Health insurance45 – 140
Personal items
(including clothing, mobile phone bills, toiletries, household goods, and other small personal items)
90 – 150
Leisure items 
(including hobbies, sports, entertainment subscriptions, social and cultural activities)
50 – 240
Transportation
(Depends on the city. Transportation including bus, train and tram.)
35 – 60
Books and equipment (including laptops)20 – 200

Scholarship opportunities in Germany

Master & Doctoral:

No.Name of InstitutionScholarship amount (Euro/month)WebsiteApplication time
1International Max Planck Research Schools (IMPRS)1200-1700https://www.mpg.de/en/imprs November
2DAAD Scholarships for Indonesia1200https://www.daad.id/en/find-funding/daad-scholarships-for-indonesia/ Depends on the program. Majority in October.
3Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) LPDP1100https://www.lpdp.kemenkeu.go.id/ May and September
Differ every year depending on policy.
4GGNB Molecular Biology – International Max Planck Research School (MSc/Ph.D)800-1500http://www.gpmolbio.uni-goettingen.de.15 January
5CiM-IMPRS PhD Programme in Life and Natural Science 1300-1500http://www.cim-imprs.deApril/May
5Hannover Biomedical Research School (HBRS)1350-1500https://www.mh-hannover.de/hbrs.htmlDecember 
6Heidelberg Bioscience International Graduate School (HBIGS)Based on contracthttp://www.hbigs.uni-heidelberg.de/main_application.html Monthly
6Erasmus Mundus Joint Master Degree (EMJMD)>= 1000https://eacea.ec.europa.eu/erasmus-plus/emjmd-catalogue_en Depends on the program. Majority in the beginning of the year.
7Other scholarship in astronomy, physics, computer science, etc.>= 1000https://jobregister.aas.org/
http://inspirehep.net/collection/Jobs
http://www1.astronomische-gesellschaft.de/en/jobregister
Depends on the vacancy offered

Bachelor:

There are many scholarships for Bachelor, but you need to apply when you arrived in Germany. For example scholarships from third parties, churches and governments. The “DAAD STIBET I” scholarship which is specifically for foreigners (non-German students). The registration and scholarship regulations depend on each campus. So you can inquire more information from your register office . There is also a “Deutschlandstipendium” which  provides €300 per month for one year. The scholarship is subject to satisfactory progress. In addition, this scholarship does not allow multiple scholarships, except scholarships that provide a maximum of € 30 / month. For further information please do not shy away to ask the concerning parties on your campus, because the terms and conditions may differ from one another. There are also scholarships from Studienstiftung des deutschen Volkes (nationwide) and Max-Weber-Programm (Bavaria only) which can be applied by bachelor students. 

Full explanation: https://www.linkedin.com/pulse/berburu-beasiswa-s1-di-jerman-betharie-cendera-arrahmani

Things to be assessed when starting your journey in Germany

  1. Departure preparation
  2. Accommodation in Germany
  3. What you have to do in the first week of arrival
  4. Guide to bring family
  5. Brief insights about Master in Germany
  6. Brief insights about Doctoral in Germany
  7. Doing hobbies in Germany
  8. Travelling in Germany

Special thanks to Formal Jerman who make the guide books available for us. Please kindly check their website for more information about studying in Germany:

http://lpdp-jerman.org

PPI Jerman Untuk Papua

“Indonesia merupakan negara demokrasi yang dewasa di dalam fungsi-fungsinya, bersama dengan komitmen yang sangat tinggi terhadap promosi dan perlindungan HAM di semua level, hampir mustahil pelanggaran HAM terjadi tanpa diketahui dan diperiksa.”

Demikian yang dikatakan oleh diplomat muda Nara Masista Rakhmatia dua tahun silam di sidang PBB KTT ke 71 mengkritik keras negara-negara pasifik yang diduga mengganggu kedaulatan negara karena mengungkit isu-isu pelanggaram HAM dan wacana kemerdekaan Papua Barat. Beliau juga mengatakan Indonesia adalah pendiri dewan HAM PBB dan inisiator komisi HAM antar kawasan ASEAN dan komisi IOC permanen independen HAM, serta sudah meratifikasi instrumen-instrumen utama HAM yang terintegrasi didalam hukum nasional.

Kala itu pada tanggal 1 desember wacana kemerdekaan oleh para intelektual Papua dilaksanakan dengan dukungan Belanda dibentuklah Nieuw Guinea Raad sebuah badan politik unikameral yang sampai hari ini kejadian tersebut masih dikenang baik, namun setahun setelahnya atas nama penumpasan pengaruh imperialisme Belanda di kawasan Indonesia melalui operasi Trikora yang disahkan oleh Presiden Soekarno dengan bantuan Amerika Serikat akhirnya Papua berhasil menjadi bagian dari wilayah negara kesatuan tersebut.

Ketika kekuasaan Orde Lama jatuh akibat sikap otoriter pemerintah dan pemberontakan, pemerintahan Orde Baru di tahun 1967 mengimplementasikan prinsip ekonomi pasar bebas sekaligus memberikan PT. Freeport ijin tambang di Tembagapura yang dahulu sudah diduga oleh pelancong-pelancong Eropa akan kekayaan alamnya, padahal referendum Papua menurut kesepakatan resmi New York Agreement masih akan dilaksanakan di tahun 1969. PT Freeport memperoleh profit sangat besar yang menjadikan perusahaan itu menjadi perusahaan tambang gigantik dan salah satu sumber penerimaan pajak terbesar negara. Bukan main banyaknya hasil bumi dan uang yang ditransfer oleh provinsi Papua ke Jakarta, meski demikian index pembangunan manusia disana memiliki angka terendah.

Selama 57 tahun Papua menjadi bagian dari Indonesia selain pembangunan yang selalu macet, penggantian identitas disetiap rezim secara arbitrer, gizi buruk melanda, minimnya tenaga kesehatan dan pendidikan, transmigrasi besar-besaran yang secara tidak langsung mengarah kepada perampasan lahan, hak-hak dasar bagi orang Papua juga tidak benar-benar dijamin terutama kebebasan berpolitik dan berpendapat yang seringkali dianggap separatis ketika mengutarakan pendapat, tidak heran pula jika orang Papua mengalami banyak perlakuan rasisme dari orang Indonesia non Papua – karena koteka dan kesukuannya mereka disebut “tidak beradab”, gemar mabuk (bahkan monyet), sulit dididik, berkulit gelap dan praduga lainnya yang tidak ditelaah dengan bijak. Tidak banyak yang dapat diketahui tentang Papua berhubung banyaknya jumlah aparat bersenjata disana sedang berpatroli – kedatangan wartawan nasional maupun internasionalpun dibatasi dan dijaga ketat. Bahkan pasca huru-hara wisma mahasiswa Papua di Surabaya diikuti dengan demonstrasi di Jayapura, Manokwari dan Sorong baru-baru ini pemerintah malah bertindak semakin agresif dengan memperlambat jaringan internet di Papua dan bereaksi “saling memaafkan” serta aparatnya dengan menambah jumlah personel atas nama keamanan.
———————————
Setelah mendengar kritik dari Nara, apa Indonesia sebagai negara demokrasi yang dewasa selama 57 tahun sampai hari ini sudah berhasil menjadikan orang Papua sebagai bagian dari warga negara Indonesia? Mengapa keterlibatan orang papua hampir tak terlihat? Solusi apakah yang lebih baik untuk Papua, Papua yang merdeka atau Papua sebagai Daerah Istimewa seperti Aceh dan Yogyakarta? Apakah pembangunan infrastruktur secara struktural yang dilakukan pemerintah selama ini sudah optimal atau jangan-jangan tak lebih daripada bentuk kontinuitas kejahatan struktural? Atau ada yang keliru dari awal konstruksi sosial dalam sejarah Indonesia yang selama ini diyakini? 
Silakan teman-teman berdiskusi secara santai 🙂

*Penyusun Narasi: revoltierende13