Jadi dokter di Jerman?

“Jadi dokter di Jerman saja, mereka masih butuh banyak tuh!”

Mungkin selentingan seperti ini acap kali terdengar di telinga lulusan dokter Indonesia. Tapi, benarkah? Faktanya, angka penyerapan tenaga dokter asing di Jerman terus meningkat. Cukup pesat terutama dalam kurun waktu 8 tahun terakhir, dengan Rumania, Yunani, dan Austria jadi suplier utamanya.

                  Grafik 1. Jumlah tenaga dokter asing di Jerman (Sumber: Bundesärztekammer 2018)

 

 

Dari sumber yang sama, diketahui bahwa jumlah tenaga dokter dari Indonesia pada tahun 2016 juga meningkat 11,8% dibanding tahun sebelumnya. Total 300 dokter asal Indonesia sudah bekerja di Jerman. Pertanyaannya selanjutnya, bagaimana prosesnya untuk bekerja di sana?

 

 

Approbation

Proses penyetaraan dokter di Jerman, atau lebih dikenal dengan Approbation, sayangnya tidaklah simple, terutama sejak 8 tahun terakhir ketika lonjakan dokter asing di Jerman semakin tinggi. Berbagai persyaratan dan legalisasi dokumen perlu dipersiapkan, selain tentunya kefasihan berbahasa Jerman. Selain itu, setiap Bundesland memiliki aturan yang berbeda-beda yang perlu diperhatikan lebih seksama. Meskipun demikian, berikut gambaran proses pada umumnya.

 

Secara umum, dokter lulusan Indonesia akan menghadapi dua macam ujian, yaitu Fachsprachprüfung (FSP) dan Kenntnisprüfung (KP). FSP merupakan ujian bahasa setara level C1 Medizin. Secara umum terdiri dari 3 bagian, Anamnesegepräch, Schreiben, dan Patientvorstellung. Seperti namanya, FSP akan lebih menekankan mengenai kemampuan berbahasa kepada pasien, meskipun seringkali dalam ujian ini juga akan ditanyakan pengetahuan-pengetahuan medis dasar (bahkan pengetahuan lanjut, jika beruntung hehe). Sementara KP, seperti namanya, merupakan ujian pengetahuan kedokteran itu sendiri. Pada ujian KP, seperti layaknya ujian kedokteran di bangku kuliah dahulu, akan lebih dalam dibahas mengenai patofisiologi penyakit, diagnosis dan tatalakasana penyakit, bahkan hingga farmakologi pilihan terapi.

 

Jika “beruntung“, dokter lulusan Indonesia bisa mendapatkan Approbation tanpa KP, jika dalam proses Gutachten dinyatakan positif. Kekurangannya, Gutachten memakan waktu yang cukup lama dan belum tentu berbuah positif, sehingga terkadang petugas di Bezirksregierung akan menyarankan peserta untuk “Verzicht auf Gutachten“ sehingga langsung saja menjalani KP.

 

Gambar 1. Proses Approbation di Jerman (Sumber: Annerkennung-nrw.de)

 

Unterlagen

 

Ini yang paling penting, dan tentu menyita waktu dan pikiran. Kelengkapan dokumen!

Lagi-lagi, setiap Bundesland akan memberikan detil persyaratan yang berbeda-beda, untuk lebih jelasnya, teman-teman bisa buka tautan ini, lalu menelusuri halaman Bezirksregierung masing-masing:

 

https://www.bundesaerztekammer.de/fileadmin/user_upload/downloads/pdf-Ordner/Ausbildung/Liste_der_Approbationsbehoerden_final.pdf

 

Berikut beberapa dokumen yang perlu dipersiapkan dari Indonesia secara umum:

  1. Ijazah S.Ked dan Dokter
  2. Akte lahir
  3. Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK)
  4. Bukti sertifikat kemampuan bahasa Jerman B2 Niveau
  5. Surat Letter of Goodstanding dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI)

 

Dokumen dalam bahasa Indonesia secara umum perlu dilegalisir di Kementrian (seperti Kumham, Kemenlu, dan Kemenristekdikti; N.B. Detil legalisir berbeda-beda tergantung dokumen terkait) dan Botschaft Jerman di Indonesia, serta selanjutnya ditranslasi oleh penerjemah tersumpah ke dalam bahasa Jerman. Selain itu, beberapa dokumen seperti Ärztliche Bescheinigung (surat sehat) dan beberapa surat pernyataan, seperti surat pernyataan belum pernah mengikuti Approbation sebelumnya dan surat pernyataan bebas tindakan kriminal juga, yang dapat diunduh di website Bezirksregierung masing-masing, juga perlu disertakan dalam proses pendaftaran.

 

Sementara untuk menjalani Gutachten, kebanyakan Bezirksregierung saat ini mensyaratkan kewajiban adanya kurikulum detil dari fakultas asal peserta mengenai detil mata ajar selama perkuliahan. Jika sudah memiliki pengalaman kerja di Indonesia, surat pengalaman kerja serta sertifikat pelatihan dan seminar dapat dilampirkan dalam proses Gutachten.

 

Hospitation

“Perlukah Hospitasi?“

Persyaratan telah menjalani Hospitation atau bisa dianggap “magang“ di pusat-pusat kesehatan di Jerman akan berbeda-beda tergantung Bezirksregierung masing-masing. Meskipun demikian, sangat disarankan untuk mengikuti proses ini guna beradaptasi tentang aktivitas dokter-pasien di rumah sakit atau pusat kesehatan lain. Lebih jauh lagi, beberapa Bezirksregierung bahkan tidak menerima bukti Hospitation dalam pendaftaran Approbation, tetapi meminta Stellezusage atau bukti bahwa peserta Approbation sudah mendapatkan tempat bekerja nantinya jika mereka lulus Approbation.