Pada tanggal 6 Agustus 2013, PPI Jerman mengadakan Workshop Pluralisme di Rumah Budaya Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Berlin dengan judul: Bhinneka Tunggal Ika Cuma Utopia? Proyeksi dan Realita Keberagaman Indonesia. Acara ini berlangsung dari Pukul  17:30 sampai Pukul 23:00 yang kemudian dilanjutkan dengan buka puasa bersama. Acara ini juga dihadiri 50 peserta dari berbagai jenis latar belakang budaya yang berbeda.

Berbeda dengan kegiatan diskusi lainnya, kegiatan yang mengupas tema pluralisme, multikulturalisme dan keberagaman di Indonesia ini menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD) yang difasilitasi oleh Ibu Siska Andanti (dosen komunikasi dan antropologi di Universitas Paramadina dan dosen mata kuliah multikulturalisme di Universitas Katholik Atmajaya Jakarta). Dalam penyelenggaraan peserta diajak untuk proaktif dalam diskusi dan memaparkan berdasarkan pengalaman para peserta menghadapi situasi yang bhinneka di Indonesia.

Dalam sesi FGD, setiap kelompok yang terdiri dari peserta yang heterogen distimulasi dengan pertanyaan: “Indonesia sebaiknya di-monokulturkan karena kondisi yang multikultur dan plural lebih sering menimbulkan konflik, bagaimana pendapat anda?” Diskusi ini berlangsung dengan intensif, mengingat pertanyaan yang diberikan cukup memprovokasi para peserta. Namun demikian, diskusi berlangsung cukup tertib. Setiap peserta memaparkan pendapatnya tanpa mengurangi nilai-nilai pluralisme itu sendiri.

Ibu Siska Andanti menyampaikan bahwa, dalam FGD ini kita tidak bicara tentang benar dan salah, tapi bagaimana kebenaran itu muncul dari setiap orang yang terlibat dalam diskusi sebagai sebuah proyeksi pola pikir. Pluralisme adalah kehidupan yang dialami setiap orang, terutama bagi orang Indonesia yang hidup dalam kondisi multikultur. Pluralisme merupakan bread and butter bagi masyarakat Indonesia, oleh karena itu setiap orang adalah narasumber yang sangat memadai untuk bicara membahas dan mencari pemecahan problematika atau masalah-masalah yang ditimbulkan dari konflik perbedaan atau ketidaksamaan dalam pluralisme.

Dalam sesi kedua, PPI Jerman memberikan pertanyaan fire-starter “Apakah Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika tidak cukup memadai untuk menjadikan kondisi multikultur dan plural berfungsi di Indonesia?” Bapak Dr. Siswo Pramono selaku Wakil Duta Besar Indonesia di Jerman yang juga merupakan ahli di bidang hubungan internasional dan konflik etnis/identitas juga memberikan pemaparan terhadap latar belakang konsep Bhinneka Tunggal Ika itu sendiri. Dalam pemaparannya beliau menggarisbawahi bahwa diperlukan platform dimana bangsa Indonesia dapat memiliki satu visi dalam keragamannya, dengan tetap melestarikan karakteristik masing-masing etnis. Beliau kemudian mendorong generasi muda untuk tetap positif dan proaktif dalam rangka memperbaiki kekurangan ideologi bangsa terkait keragaman di Indonesia, serta paralel dengan itu juga mendorong pergerakan tanpa kekerasan dalam melakukan kontrol terhadap aparat dan institusi dalam menjaga multikulturalisme di Indonesia. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemutaran film pendek dengan judul ‘Pribumi Versus Non-Pribumi’. Film ini menggambarkan bahwa stereotip tentang kelompok etnis di sekitar kita sebagian dibentuk melalui proses indoktrinasi dan pendidikan dalam keluarga, selain tentunya juga oknum-oknum di masyarakat.

Kegiatan workshop ini juga disiarkan secara live oleh Radio PPI Dunia. Hal tersebut mempermudah masyarakat yang tidak berdomisili di Berlin (Jerman),  untuk ikut berpartisipasi dalam workshop kali ini. Respon yang diterima melalui kanal sosial media dan radio PPI dunia pun cukup menunjukkan euphoria dan antusiasme dari para pendengar dan followers PPI Jerman dengan mencantumkan #pluralisme.

971212_204400956394523_793128390_n